Wednesday, December 31, 2008

Luka karena cinta

Ketika cinta telah kehilangan makna. Menyisakan hanya sepenggal penafsiran naif. Tepatnya hawa nafsu, namun dikaburkan oleh kemilau siasat biang kedurjanaan.

Sehingga di saat yang sama kebiadaban menjadi perilaku iblis berwujud manusia; mereka masih bisa menganggap diri sebagai manusia yang memiliki cinta. Apakah mereka buta atau membutakan diri. Mengerti namun mendustai hati nurani.

Saudara-saudaraku yang gugur di bumi Palestina. Adalah korban kebiadaban iblis berwujud manusia.

Hati ini perih. Ini adalah suntikan yang membangkitkan semangat dan kepedulian kami. Memulai saat ini, dengan segenap kemampuan yang dianugerahkan oleh Sang Maha Pemberi Cobaan.

Allahu Rabbi...
Bimbing kami untuk mewujudkan cinta; bagi saudara-saudara kami di bumi mulia...

Monday, December 8, 2008

MOMENTUM BERKURBAN

Selamat merayakan 'Idul Qurban 1429 H.

Merayakan? Mungkin tepatnya adalah memaknai 'Idul Qurban. Berawal dari begitu tulusnya seorang ayah yang rela mengorbankan harta teramat berharga yang menjadi miliknya. Seorang anak yang cakap, menjelang remaja dengan performa yang begitu menyejukkan mata dan hati Sang Ayah. Bahkan kehadirannya pun telah terlalu lama dinantikan. Berpuluh tahun mendambakan kehadiran seorang penerus generasi. Melalui banyaknya perjuangan dan pengorbanan untuk mendapatkannya, akhirnya Allah SWT mengamanahkan seorang anak yang sholih dan mendekati sempurna. Bukankah ini adalah harta yang amat mahal?

Namun, apalah artinya harta dan kesenangan dibandingkan dengan keridhoan dari Sang Pencipta. Barangkali terlalu banyak hamba yang mudah mengucapkan cinta kepada-Nya melebihi cinta kepada harta duniawi. Hingga bila telah datang ujian-Nya, nyata kan terbukti apakah kata yang diucapkan 'kan mampu untuk dijalani.

Kala itu, Ismail menjelang remaja. Dalam usia yang masih belia, ia memiliki pola fikir dan kematangan yang lebih dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Ismail begitu dewasa dan sangat cepat menerima, memahami, sekaligus mengamalkan segala nilai-nilai ketuhanan yang dibawa dan diajarkan oleh ayahnya, Ibrahim AS.

Ketika Ibrahim bermimpi menerima perintah untuk menyembelih Ismail, Ibrahim AS mampu membuktikan cintanya kepada Sang Kholiq melebihi segalanya. Ismail yang begitu tampan dan selama ini menghiasi indah hari-harinya, mesti dikurbankan.... Ibrahim yakin, bahwa dibalik perintah Allah SWT yang begitu mengaduk-aduk perasaannya, tersimpan hikmah yang lebih besar lagi. Dengan sangat hati-hati beliau menceritakan kepada anak kesayangannya tersebut.

"Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah, bagaimana pendapatmu?" Ibrahim menunggu pendapat buah hatinya dengan berdebar.

Ternyata jawaban yang didapatkannya, jauh dari yang dibayangkan. Ibrahim mengira sang buah hati akan mengajukan dulu beberapa pertanyaan. Ternyata pemahaman Ismail akan risalah yang dibawa ayahnya telah jauh lebih tinggi dari yang sewajarnya. Ismail faham betul, bahwa mimpi dari seorang nabi seperti ayahnya, bukanlah sembarang mimpi. Mimpi seorang nabi adalah wahyu, dan perintah Allah SWT tersebut mengandung hikmah tentunya.

" Wahai ayahku..., lakukanlah apa yang diperintahkan-Nya kepada ayah. Insya Allah... engkau akan mendapatiku termasuh orang yang sabar."

Dengan mata terpejam dan hati yang pasrah, Ibrahim AS melaksanakan kurban, menyembelih putera kesayangannya. Dan benar saja ketika hikmah yang diyakini mereka seketika terwujud. Cinta Allah SWT kepada Ibrahim dan Ismail tentu saja melebihi cinta mereka berdua kepada-Nya. Ibrahim yang telah membuktikan bakti cintanya kepada Allah SWT, dianugerahi ni'mat berupa ketentraman dan kebahagiaan yang luar biasa, ketika menemukan putera yang sedianya dikurbankan, diganti oleh Sang Maha Berkehendak dengan seekor kambing qibas. Subhanallah...

Barangkali kita sebagai ummat penerus para nabi, tak 'kan sanggup menyamai kecintaan mereka kepada Sang Kholiq. Meski demikian, momentum peringatan 'Idul Adha hendaknya mampu memompa semangat kita untuk tetap berusaha meneladani dan mengikuti kecintaan mereka, seoptimal kemampuan yang ada.

Berkurban...tak kan teruji hanya dengan menyisihkan milik kita, untuk diberikan bagi sesama dalam pandangan mata. Mempersembahkan hewan kurban di setiap tahun, juga belum menjamin makna pengorbanan sejati. Berkorban sejati, baru bisa dibuktikan ketika ada keselarasan dzohir berupa amaliah dengan hati dan fikiran. Hati yang senantiasa ridho mempersembahkan amalan terbaik dalam setiap aktivitas. Fikir yang terus menerus menjelajah untuk menemukan terobosan baru bagi kebenaran. Dan amaliah yang 'kan mewujudkan segala 'azam sebelumnya...

Melalui momentum 'Idul Adha kali ini, saya berhenti sejenak untuk meneliti kembali perjalanan yang telah dilalui. Sejauh ini, sudahkah saya berkorban? Allahu a'lam.

(Dirangkum dari ceramah oleh Ust. Iskan Qolba Lubis, MA 02 Des 08)

Thursday, December 4, 2008

Allahu Rabbi...., Engkaulah cinta sejatiku
senantiasa mencintaiku
'kala aku berada pada titik apa juga

Di saat aku merasakan keramaian dengan orang-orang di sekelilingku
kebahagiaan Engkau anugerahkan kepadaku
Di saat aku sunyi dari sapaan orang-orang yang kusayang,
Engkau yang menemaniku

Allahu Rabbi...
mohon Engkau ampuni begitu banyak khilaf salahku
begitu lemahnya diri ini,
bila tanpa kasih kekuatan dari-Mu.

aku lemah Ya Allah...
bantu aku meraih ridho-Mu
dalam gerak langkah aktivitasku.

Ya Allah...
hanya Engkau yang amat mengerti aku, faham akan jiwaku...
bimbinglah aku selalu Ya Rabbi....
dalam menerima amanah-Mu,
sebagai seorang hamba, seorang ibu, seorang istri, seorang anak...

Ya Allah...
aku rindu kesyahduan dengan-Mu
tolonglah aku, Ya Rabbi....

Amin.

Wednesday, July 30, 2008






Berada di dekatmu ku masih merasa jauh. Aku ingin memanggil hatimu, mengetuk pintu kalbu. Akankah kau buka, dan persilakan harapanku menjadi bagian dari jiwamu. Perlukah aku menjadi tamu, atau sudahkah aku bukan orang lain bagimu.

Aku memiliki keyakinan tentangmu. Namun dunia kini tak jarang mengajakku mengoreksi lebih jauh keberadaanmu. Apakah masih ada di pijakan yang telah kita ikrari. Semoga karena cinta. Dan tuntunan dari Sang Pencipta.

Dunia kini sering mempedaya... Mengaburkan hakikat cinta. Memberi polesan indah kemaksiatan, dan mencibir idealisme nurani. Cahaya Illahi...

Kupasrahkan hatimu pada-Nya.

Thursday, April 10, 2008

Mencintaimu Karena Allah SWT

Apa yang engkau rasakan di hari ini, suamiku? Masih samakah dengan sembilan tahun yang lalu, ketika pertama kali kita bersanding sebagai raja dan ratu sehari? Seusai ijab qabul yang engkau ucapkan dengan mantab, namun terdengar begitu syahdu di telingaku; sehingga tak kuasa ku menahan uraian air mata… Tentu bukan kesedihan yang menggelayuti batinku. Air mata syukur karena saat itu, Allah SWT telah menakdirkanmu menjadi pendampingku.

Mulai saat itu, bersama kita mengarungi samudera di dalam bahtera rumah tangga. Banyak kejutan-kejutan, yang berasa pahit dan manis. Karena sebelumnya engkau bukanlah siapa-siapa, namun tiba-tiba menjadi pemandu hidup yang mesti aku patuhi.

Ternyata tak gampang melakukan segala apa yang telah aku ‘azamkan sebelumnya. Siapa yang tak ingin menjadi isteri sholihah. Mampu menerima dengan ikhlas segala kelebihan dan kekurangan suami. Membaktikan diri sepenuh hati kepada suami, untuk meraih ridho Illahi? Tentu setiap wanita mendambakannya. Demikian juga dengan diriku… Namun aku belum yakin benar, apakah gelar mulia itu telah pantas engkau anugerahkan kepadaku.

Tak bisa kupungkiri, betapa masih banyak tingkah kekanakan-ku membuat gundah hatimu. Sering nasihatmu kusambut dengan paras kecut, sedih, bahkan dengan berlari meninggalkanmu. Tapi percayalah.., bukan karena aku tak patuh kepadamu, melainkan karena begitu rapuhnya diriku yang belum siap dengan pola yang engkau terapkan. Engkau dibesarkan dalam keluarga yang begitu lugas dan keras. Jauh berbeda dengan segala didikan yang sebelumnya kualami… Aku yakin, suatu saat aku akan menjadi lebih tegar dan mampu menjadi sosok yang engkau harapkan.

Suamiku…sembilan tahun sudah berlalu. Tiga orang buah hati telah hadir di tengah-tengah kita. Anugerah dari-Nya yang teramat berarti, mengisi lembaran-lembaran kehidupan kita berdua. Mereka begitu indah menorehkan kisah-kisah sedih dan gembira. Ada persaudaraan yang tulus, ada pula pertengkaran-pertengkaran yang menguji kesabaran kita. Menguji keadilan dan kearifan kita sebagai orangtua.

Setelah sekian lama kita bersama, sudahkah kita saling mengenal? Adakah engkau bahagia hidup bersamaku? Setidaknya senantiasa muncul dari lubuk hatiku, untuk lebih dan lebih mengenalmu. Untuk terus dan terus menambah baktiku. Supaya dapat aku menjadi seorang yang engkau terima dengan ikhlas. Supaya dapat kita seiring sejalan menjaga dan mendidik anak-anak kita. Agar kelak, kita dapat mempertanggungjawabkan di hadapan Sang Pemberi Amanah. Dan…betapa inginnya hatiku, jika aku-lah yang menjadi bidadarimu di negeri abadi… Amin.

Suamiku, dengan tulus kuucapkan…., aku mencintaimu karena Allah SWT di ulang tahun ke sembilan pernikahan kita.

Tuesday, May 29, 2007

EPISODE CINTA

"Aku mulai menemukanmu!" Terpancar cahaya yang selama ini terbingkai oleh tabir. Karena hari-hari adalah masa perkenalan kita, memahami dua hati. Karena kini aku telah bisa mengenalimu, sebagai hati yang membuatku berbuncah. Tentang keharuan, kebahagiaan, juga kesyukuran yang begitu besar. Karena anugerah-Nya berupa hatimu, untukku.